Kamis, 28 Oktober 2010

MAKNA PENDIDIKAN


       A.       Pengertian
Dalam istilah asing, yaitu bahasa yunani, pendikan itu disebut Paedagogiek. Perkataan ini terdiri dua suku kata, yaitu Paes dan Gogos, Paes artinya anak dan Gogos artinya penuntun. Jadi Paedagogos artinya penuntun anak. Mulanya Paedagogiek dimaksudkan bahwa budak yang pandai dan dewasa yang diserahkan untuk mengantar anak tuannya kesekolah sambil membawa alat-alat sekolahnya.
Dalam bahasa Inggris, Pendidkan disebut Educate, artinya menarik keluar kekuatan  terpendam pada diri anak. Education berarti mengeluarkan dan menuntun.
Dalam bahasa Arab, Pendidikan disebut Tarbiyah yang berarti memelihara dan menjaga. Menurut bahasa pengertian pendidikan yaitu “Tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”.  Kata kerja rabba {mendidik} sudah digunakan sejak pada zaman nabi
Muhammad SAW seperti terlihat dalam Alquran dan Hadist Nabi.  Menurut istilah kegiatan yang dilakukan Nabi dalam meyampaikan seruan agama dengan berdakwah, meyampaikan ajaran, memberi contoh , melatih keterampilan , dan menciptakan lingkungan social yang mendukung pelaksana ide pembentukan pribadi muslim.
Jadi pendidikan dalam perspektif  islam adalah sekaligus pedidikan iman dan pendidikan amal, maka pedidikan islam adalah pedidikan individu dan pedidikan masyarakat.
Sesuai Firman Allah yang pertama turun yang langsung menyuruh umat islam untuk belajar, yaitu belajar membaca :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” {Q.S 1 Al’alaq}
Perlu diketahui, pengertisn pendidikan sangat luas, sehingga melahirkan bermacam-macam defenisi dan batasannya oleh para tokoh-tokoh, diantaranya:
1.      Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah daya upaya untuk memberi tuntunan pada egala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin yang setinggi-tingginya.(Dewantara, 1962 )
2.      Ahmad D. Marimba
Pendidkan adalah bimbingan atau pimpinan oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani maupun rohanisi terdidik untuk terbentuknya kepribadian yang utama. (AD. Marimba, 1991)
Dari kedua defenisi diatas, menunjukkan arti singkat pendidikan ialah pertolongan. Jadi mendidik adalh menolong anak dalammengembangkan potensi-potensi yang ada pada anak.
Maka segala usaha yang berbentuk apa saja yang bersifat memberi pertolongan untuk membawa anak ketingkat dewasa, itu dinamakan pendidikan.
Namun secara terperinci defenisi pendidikan adalah pertolongan yang diberikan orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak untuk menuju ketingkat dewasa.
B.       Batas-batas Pendidikan
Adapun batas-batas pendidikan adalah dimulai sejak manusia itu dilahirkan sampai ia meninggalkan dunia ini kembali. (Prof. Khonstam)
Memungkinkan ia merujuk pada hadits Nabi saw, yaitu “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai keliang lahat”
Tapi, dalam hadits itu adalh ilmu, bukan pendidikan? Dalam hal ini, maka di maknai bahwa, dalam proses pendidikan itu yang diberikan adalah ilmu. Sehingga ilmu itulah yang kita dituntut untuk terus mencarinya.
Karena hidup dengan ilmu itu mudah, jika lmu itu diiringi dengan iman agar hidup kita terarah. Bukan ilmu yang membawa kesesatan/malah menjauhkan kita kepada Yang Maha Kuasa.
Pendapat lain tentang batas-batas pendidikan juga dikemukakan oleh Sutari Imam Barnadib, yaitu pendidikan dimulai sejak anak dalam kandungan hingga mati. Batas ini agak sempurna dari pada batas-batas yang tersebut diatas. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Brodjonegoro.
C.       Pendidikan Akhlak
Dalam pendidikan yang terpenting adalah pendidikan akhlak dan moral. Karena untuk membentuk akhlak yang baik itu sulit jika tidak didasari oleh kesadaran pribadi. Banyak orang pintar yang mengiuti pendidikan, baik pendidikan formal, informal maun non formal, namun tidak memiki akhlak dan moral, apalagi iman. Sehingga banyak kita lihat fenomena sekarang ini, hasil dari penddikan(ilmu) itu sudah banyak yang melenceng dari kodrat ilmu itu sendiri. Terutama untuk umat isla, banyak para pendidik yang menuntut ilmu keluar negeri, ketika pulang, ia memiliki ilmu yang luas, namun ilu itu sudah lari dari ketentua islam.
Oleh sebab itu, ketika kita mengikuti pendidikan, maka saringlah ilmu itu, jangan langsung ditelan bulat-bulat, karena kita diberi akal untuk berfikir. Kemudian dengan bertambahnya ilmu pada dirikita, maka bertambahlah iman kita, bukan malah semakin jauh dari Yang Maha Esa.
Demikianlah uraian yang singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi yang membacanya. Pesan penulis:
Hidup dengan Ilmu itu Mudah
Hidup dengan Iman itu Terarah
Hidup dengan Seni itu Indah
Wassalamu’alaium………..


Sumber:
- A. Bakar Rosdiana, Pendidikan Suatu Pengantar, Citappustaka,Bandung:2008.
- Marimba, D Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’rifah, Bandung:1964

Tidak ada komentar:

Posting Komentar