Sabtu, 30 Oktober 2010

Apakah Anda Mahasiswa??



apakah ini mahasiswa??
apakah ini yang membuat mahasiswa bahagia??













apakah ini yang dicari mahasiswa??









 Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dalam hati anda. Namun sebelumnya baca dulu tulisan yang singkat ini.
Mahasiswa??
Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab VI bagian ke empat pasal 19 bahwasanya “ mahasiswa ” itu sebenarnya hanya sebutan akademis untuk siswa/ murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Sedangkan secara harfiyah, “ mahasiswa ” terdiri dari dua kata, yaitu ” Maha ” yang berarti tinggi dan ” Siswa ” yang berarti subyek pembelajar ( menurut Bobbi de porter ), jadi dari segi bahasa “ mahasiswa ” diartikan sebagai pelajar yang tinggi atau seseorang yang belajar di perguruan tinggi/ universitas.
Namun jika kita memaknai “ mahasiswa ” sebagai subyek pembelajar saja, amatlah sempit pemikiran kita, sebab meski ia ( baca : Mahasiswa ) diikat oleh suatu definisi study, akan tetapi mengalami perluasan makna mengenai eksistensi dan peran yang dimainkan dirinya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, “ mahasiswa ” tidak lagi diartikan hanya sebatas subyek pembelajar ( study ), akan tetapi ikut mengisi definisi learning. Mahasiswa adalah seorang pembelajar yang tidak hanya duduk di bangku kuliah kemudian mendengarkan tausiyah dosen, lalu setelah itu pulang dan menghapal di rumah untuk menghadapi ujian tengah semester atau Ujian Akhir semester. “ mahasiswa ” dituntut untuk menjadi seorang ikon-ikon pembaharu dan pelopor-pelopor perjuangan yang respect dan tanggap terhadap isu-isu sosial serta permasalahan umat dan bangsa.
Apabila kita flash back melihat sejarah, peran mahasiswa acapkali mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari penjajahan hingga kini masa reformasi. “ mahasiswa ” bukan hanya menggendong tas yang berisi buku, tapi mahasiswa turut angkat senjata demi kedaulatan bangsa Indonesia. Dan telah menjadi rahasia umum, bahwasanya mahasiswa lah yang menjadi pelopor restrukturisasi tampuk kepemimpinan NKRI pada saat reformasi 1998. Peran yang diberikan mahasiswa begitu dahsyat, sehingga sendi-sendi bangsa yang telah rapuh, tidak lagi bisa ditutup-tutupi oleh rezim dengan status quonya, tetapi bisa dibongkar dan dihancurkan oleh Mahasiswa.
Mencermati alunan sejarah bangsa Indonesia, hingga kini tidak terlepas dari peran mahasiswa, oleh karena itu ” mahasiswa ” dapat dikategorikan sebagai ” Agent of social change ” ( Istilah August comte dalam pengantar sosiologi ) yaitu perubah dan pelopor ke arah perbaikan suatu bangsa.
Masih ada sebagian madzhab mahasiswa yang apriori ( cuek ) terhadap eksistensi dirinya sebagai seorang mahasiswa , bahkan ia tak mau tahu menahu tentang keadaan sekitar lingkungan masyarakat ataupun sekitar lingkungan kampusnya sendiri. Yang terpenting buat mereka adalah duduk dibangku kuliah menjadi kambing conge dosen , lantas pulang duluan ke rumah, titik.
Inikah ” mahasiswa ” ? Padahal, mahasiswa adalah sosok yang semestinya kritis, logis, berkemauan tinggi, dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa, mau bekerja keras, belajar terus menerus, mempunyai nyali ( keberanian yang tinggi ) untuk menyatakan kebenaran, aplikatif di lingkungan masyarakat serta spiritualis dan konsisten dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan Konsep itulah, mahasiswa semestinya bergerak dan menyadari dirinya akan eksistensi ke-mahahasiswaan nya itu. Belajar tidaklah hanya sebatas mengejar gelar akademis atau nilai indeks prestasi ( IP ) yang tinggi dan mendapat penghargaan cumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun bangsa, atau paling tidak dalam lingkup yang paling mikro, ada suatu kemauan untuk mengembangkan civitas / perguruan tinggi dimana ia kuliah. Misalnya dengan ikut serta / aktif di Organisasi Mahasiswa, baik itu Organisasi intra kampus ( BEM dan UKM ) ataupun Organisasi Ekstra kampus, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan lain yang mengarah pada pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, Dengan semangat Muharramisasi mari kita sama - sama memaknai even tahun baru 14301 Hijriyah ini dengan senatiasa menginsafi dan selalu berintrospeksi diri kita sebagai seorang ” mahasiswa ”, juga kita jadikan sebagai moment untuk ” hijrah ”, yaitu hijrah dari kemalasan menuju kerja keras, hijrah dari sikap pesimis menuju sikap optimis, berani keluar dari kenyamanan untuk mendaki dan menempuh kesulitan, respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa , sehingga endingnya kita layak dan pantas untuk disebut sebagai seorang ” mahasiswa ”.

Kamis, 28 Oktober 2010

MAKNA PENDIDIKAN


       A.       Pengertian
Dalam istilah asing, yaitu bahasa yunani, pendikan itu disebut Paedagogiek. Perkataan ini terdiri dua suku kata, yaitu Paes dan Gogos, Paes artinya anak dan Gogos artinya penuntun. Jadi Paedagogos artinya penuntun anak. Mulanya Paedagogiek dimaksudkan bahwa budak yang pandai dan dewasa yang diserahkan untuk mengantar anak tuannya kesekolah sambil membawa alat-alat sekolahnya.
Dalam bahasa Inggris, Pendidkan disebut Educate, artinya menarik keluar kekuatan  terpendam pada diri anak. Education berarti mengeluarkan dan menuntun.
Dalam bahasa Arab, Pendidikan disebut Tarbiyah yang berarti memelihara dan menjaga. Menurut bahasa pengertian pendidikan yaitu “Tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”.  Kata kerja rabba {mendidik} sudah digunakan sejak pada zaman nabi
Muhammad SAW seperti terlihat dalam Alquran dan Hadist Nabi.  Menurut istilah kegiatan yang dilakukan Nabi dalam meyampaikan seruan agama dengan berdakwah, meyampaikan ajaran, memberi contoh , melatih keterampilan , dan menciptakan lingkungan social yang mendukung pelaksana ide pembentukan pribadi muslim.
Jadi pendidikan dalam perspektif  islam adalah sekaligus pedidikan iman dan pendidikan amal, maka pedidikan islam adalah pedidikan individu dan pedidikan masyarakat.
Sesuai Firman Allah yang pertama turun yang langsung menyuruh umat islam untuk belajar, yaitu belajar membaca :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” {Q.S 1 Al’alaq}
Perlu diketahui, pengertisn pendidikan sangat luas, sehingga melahirkan bermacam-macam defenisi dan batasannya oleh para tokoh-tokoh, diantaranya:
1.      Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah daya upaya untuk memberi tuntunan pada egala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin yang setinggi-tingginya.(Dewantara, 1962 )
2.      Ahmad D. Marimba
Pendidkan adalah bimbingan atau pimpinan oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani maupun rohanisi terdidik untuk terbentuknya kepribadian yang utama. (AD. Marimba, 1991)
Dari kedua defenisi diatas, menunjukkan arti singkat pendidikan ialah pertolongan. Jadi mendidik adalh menolong anak dalammengembangkan potensi-potensi yang ada pada anak.
Maka segala usaha yang berbentuk apa saja yang bersifat memberi pertolongan untuk membawa anak ketingkat dewasa, itu dinamakan pendidikan.
Namun secara terperinci defenisi pendidikan adalah pertolongan yang diberikan orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak untuk menuju ketingkat dewasa.
B.       Batas-batas Pendidikan
Adapun batas-batas pendidikan adalah dimulai sejak manusia itu dilahirkan sampai ia meninggalkan dunia ini kembali. (Prof. Khonstam)
Memungkinkan ia merujuk pada hadits Nabi saw, yaitu “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai keliang lahat”
Tapi, dalam hadits itu adalh ilmu, bukan pendidikan? Dalam hal ini, maka di maknai bahwa, dalam proses pendidikan itu yang diberikan adalah ilmu. Sehingga ilmu itulah yang kita dituntut untuk terus mencarinya.
Karena hidup dengan ilmu itu mudah, jika lmu itu diiringi dengan iman agar hidup kita terarah. Bukan ilmu yang membawa kesesatan/malah menjauhkan kita kepada Yang Maha Kuasa.
Pendapat lain tentang batas-batas pendidikan juga dikemukakan oleh Sutari Imam Barnadib, yaitu pendidikan dimulai sejak anak dalam kandungan hingga mati. Batas ini agak sempurna dari pada batas-batas yang tersebut diatas. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Brodjonegoro.
C.       Pendidikan Akhlak
Dalam pendidikan yang terpenting adalah pendidikan akhlak dan moral. Karena untuk membentuk akhlak yang baik itu sulit jika tidak didasari oleh kesadaran pribadi. Banyak orang pintar yang mengiuti pendidikan, baik pendidikan formal, informal maun non formal, namun tidak memiki akhlak dan moral, apalagi iman. Sehingga banyak kita lihat fenomena sekarang ini, hasil dari penddikan(ilmu) itu sudah banyak yang melenceng dari kodrat ilmu itu sendiri. Terutama untuk umat isla, banyak para pendidik yang menuntut ilmu keluar negeri, ketika pulang, ia memiliki ilmu yang luas, namun ilu itu sudah lari dari ketentua islam.
Oleh sebab itu, ketika kita mengikuti pendidikan, maka saringlah ilmu itu, jangan langsung ditelan bulat-bulat, karena kita diberi akal untuk berfikir. Kemudian dengan bertambahnya ilmu pada dirikita, maka bertambahlah iman kita, bukan malah semakin jauh dari Yang Maha Esa.
Demikianlah uraian yang singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi yang membacanya. Pesan penulis:
Hidup dengan Ilmu itu Mudah
Hidup dengan Iman itu Terarah
Hidup dengan Seni itu Indah
Wassalamu’alaium………..


Sumber:
- A. Bakar Rosdiana, Pendidikan Suatu Pengantar, Citappustaka,Bandung:2008.
- Marimba, D Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’rifah, Bandung:1964

Kamis, 21 Oktober 2010

KIAT MENDAPATKAN HIDAYAH DAN TETAP ISTIQOMAH


1. Hidayah itu harus di jemput, bukan di tunggu
    Jemputlah hidayah itu biarpun harus mengorbankan segala yang kita miliki karena disanalah letak kesuksesan sejati. Sukses karena kita mengenal siapa diri kita, siapa Tuhan yang harus disembah dan untuk apa hidup di dunia yang hanya sekali dan tidak  mengenal siaran tunda ini, setelah itu istiqomalah kemudian pegang teguhlah keyakinan itu dan jangan ditukar dengan apapun, keistiqaomahan itulah yang mengantarkan kita kedalam jannahnya. Kita juga dapat melihat fenomena itu dalam alquran surah Hud ayat 112.
2. Berlandaskan ilmu serta dikuatkan dengan iman, di aplikasikan dengan amal, serta dimurnikan dengan keikhlasan
    Ilmu sudah seharusnya dilandasi dengan iman, agar ilmu yang dimiliki seseorang menjadi berkah dan terarah sesuia dengan kodratnya ilmu yang baik. Ilmu dan keimanan menjadi hampa jika tidak di realisasikan dengan amal nyata. Seperti seorang yang mau belajar berenang, maka satu-satu caranya adalah langsung menceburkan diri kedalam kolam renang dan mempraktekkan semua teori yang sudah di pahami. Di sinilah fungsi amal didapatkan.
3. Cari lingkungan yang kondusif
    Seperti Rasul yang hijrah dari mekah kemadinah, maka kita juga harus berhijrah dari keburukan kepada kebaikan, dari kemaksiatan kepada ketaubatan. Jadi carilah situasi yang kondusif untuk mencari perubahan kepada  yang lebih baik.
4. Ikuti kelompok mentoring
    Nah seperti dalam menjalankan bisnis, kita membutuhkan mentor yang sudah berpengalaman. Maka dalam menjalankan program perbaikan diri kita membutuhkan sebuah kelompok yang akan terus menerus mengingatkan saat kita salah, menyemangati disaat lemah dan memberikan senyuman tulus kebahagiaan saat kita mendapatkan kesuksesan.
5.Temukan guru-guru kehidupan
   Guru-guru kehidupan adalah mereka yang menginspirasi kita untuk tetap bangkit saat terjatuh, tetap istiqomah saat godaan terus merongrong jiwa. Dialah yang membuat kita merasa bahwa semua masalah hidup yang kita alami lebih ringan dibandingkan dengan ujian hidup yang ia alami.
6. Kontinuitas ibadah
    Bukankah Allah lebih menyukai amal yang terus menerus dilakukan walaupun asedikit? Buatlah target ibadah harian yang harus dilakukan untuk menjaga stamina ruhiah, sehingga setiap hari yang kita jalani selalu di niatkan untuk beribadah kepada-Nya serta selalu berada dalam lindungan-Nya
Demikianlah uraian yang sedikit ini, semoga bermanfaat bagi anda yang membacanya dan semoga Allah tetap memberikan hidayah Nya kepada kita semua. Amin ya robbal alamin.....

Kamis, 14 Oktober 2010

Silaturrahmi dengan facebook


Facebook adalah suatu layanan yang diberikan leh orang-orang yang ahli dalam bidang komputer dan teknologi kepada masyarakat luas bahkan negara untuk saling berhubungan. Jadi, setelah saya tahu apa itu facebook dan manfaatnya, saya pun mulai memasuki dunia facebook.
Awal nya saya kurang memahami betul apa itu facebook, eh lama kelamaan sejalan dengan brgantinya hari kehari, bulan kebulan, tahun ke tahun, saya mulai mengerti, dan saya bisa berhubungan dengan orang lain, baik itu teman sekolah SD saya, teman sekolah Mts saya, maupun orang lain. Sehingga teman saya bertambah, ya walaupun bertambah nya hanya didunia maya saja...
Tpi walaupun hanya di dunia maya, semua itu bisa jadi teman dunia nyata. Karena saya sudah membuktikannya. Dan saya berjumpa dengan teman-teman facebook saya di dunia nyata. Akhirnya silaturrahmi pun terjalin dengan baik. Terimakasi ya allah....

NB:
Maf ya kalau cuma dikit tulisan nya..