Kamis, 04 November 2010

Yakinlah, Kesabaran Pasti Membawa Kebaikan

Seorang teman bercerita bahwa dahulu dirinya sangat tidak sabar, kemudian selama berpuluh-puluh tahun ia berupaya untuk meningkatkan kesabarannya, tetapi gagal. “Bersabarlah, kesabaran pasti akan datang,” teman yang lain menukas. Sungguh, kelakar ini sejatinya menyiratkan makna yang mendalam. Pasalnya, kesabaran adalah kunci keberhasilan. Sebuah pepatah Timur mengatakan bahwa kesabaran dan keberhasilan merupakan dua sahabat lama. Di mana ada kesabaran, tak jauh di belakangnya niscaya ada keberhasilan.

Perhatikanlah, manakala Anda melakukan berbagai kebajikan, maka sesungguhnya Anda sedang berinvestasi. Karya-karya yang menakjubkan adalah buah dari usaha-usaha para ilmuwan yang melelahkan tapi penuh kesabaran. Thomas Alfa Edison misalnya, untuk menyempurnakan bagian dari penemuan-penemuannya, siang dan malam ia berada di laboratorium. Seringkali ia tidak keluar dari ruang penelitiannya selama dua hari. Tak jarang ia lupa makan, atau cukup dengan memakan beberapa potong roti kering. Ia berkata, "Tiada satu pun dari temuan-temuan saya merupakan hasil dari kebetulan. Ketika saya yakin bahwa usaha dapat memberikan hasil, maka saya arahkan diri saya ke usaha itu dan saya terus melakukan penelitian hingga saya berhasil."

Sabar adalah kata yang berulang kali disampaikan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an, Dia menyinggung masalah kesabaran ini di sekitar tujuh puluh tempat. Semata-mata untuk menegaskan betapa pentingnya arti kesabaran bagi manusia. Sebagaimana Anda berulang kali menyampaikan sesuatu yang Anda yakini benar kepada lawan bicara Anda, maka Allah juga berulang kali menyampaikan kepada para hamba-Nya agar bersabar. Mengapa demikian? Karena sesuatu yang baik pasti akan terjadi, bukankah Allah swt berfirman, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” QS az-Zumar [39] 10.

Kesabaran dalam menanggung kesulitan yang Anda hadapi saat ini -baik berupa persoalan keuangan, sakit parah, prahara dalam rumah tangga, atau terkena fitnah yang luar biasa-, merupakan sebuah benteng pertahanan yang amat kuat yang telah Allah anugerahkan. Orang-orang yang berlindung di dalam benteng ini akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat. Kesabaran yang berlipat-lipat akan memperoleh ganjaran dari-Nya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira (hai Muhammad) kepada orang-orang yang sabar.” QS al-Baqarah [2]: 155.

Harus diakui sulit bagi kita untuk bersabar sehingga sering kita mendengarkan kata-kata “sabar saya ada batasnya lho.” Kita lupa bahwa kasih dan rahmat Allah tiada berbatas dan tiada bertepi. Banyak orang yang harus belajar dan berguru pada alam dan hewan agar mendapatkan hikmahnya sabar. Anjing misalnya, hewan ini telah banyak mengajarkan kesetiaan dan ketaatan yang baik kepada kita. Lalu lihatlah semut, bukankah “mahluk kecil tak berharga” ini telah memberikan pelajaran penting mengenai kerja keras dan ketekunan?

Alkisah seorang raja suatu saat kalah telak dalam sebuah pertempuran. Dalam keadaan terluka dan putus asa, sementara pasukannya lari kocar-kacir, dia melarikan diri dari kancah peperangan untuk menyelamatkan diri ke sebuah gunung. Sewaktu berbaring di tanah, dia melihat seekor semut yang sedang bergulat menarik-narik sebutir gandum, yang lebih besar tiga kali lipat daripada tubuhnya, naik ke atas batu menuju sarangnya. Gandum itu berkali-kali jatuh karena susah bagi si semut untuk menaikkannya. Kemudian, ia melipatgandakan usahanya dan mencobanya lagi.

Setelah sekian kali mencoba, akhirnya ia pun berhasil membawa sebutir gandum tersebut ke sarangnya. Usaha si semut yang tak kenal lelah itu sangat mengesankan sang raja. Semut mengajarinya ketekunan, semut memberinya inspirasi untuk kembali ke gelanggang perang, ia pun lalu mengumpulkan sisa-sisa pasukannya, dan berperang menuntaskan misinya.

Sekarang perhatikan diri Anda! Bukankah pekerjaan-pekerjaan kita mungkin tak seberat pekerjaan si semut atau sebesar misi sang raja. Tapi itulah pekerjaan-pekerjaan yang harus kita tekuni agar menerbitkan keberhasilan. Bukankah masalah-masalah kita tak serumit dengan masalah si semut yang harus jatuh bangun demi sebutir gandum? Apakah masalah Anda saat ini sebanding dengan masalah yang menimpa Zainab, budak perempuan milik Abu al-Hakam yang ditusuk kedua matanya? Apakah penderitaan Anda lebih hebat dengan penderitaan yang dialami Sumayyah yang syahid ketika Abu Jahal mencabik-cabik ususnya hanya karena Sumayyah mati-matian mempertahankan agama Muhammad saw?

Saudaraku, bukankah emas menjadi emas karena telah melalui proses pembakaran yang begitu lama? Bukankah itu artinya, apa yang dikerjakan dengan cepat dan tergesa-gesa akan hilang sama cepatnya, dan apa yang harus bertahan abadi itu membutuhkan usaha yang lama?

Orang yang tabah dalam menghadapi kesulitan akan dianugerahi kesabaran yang sempurna. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang ketika tertimpa bencana, berkata: “Kami milik Allah. Dia mengatur kerajaan-Nya menurut kehendak-Nya. Kami adalah mahluk-mahluk-Nya, dan kami akan kembali kepada-Nya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar